LANGKAH FILOSOFIS DALAM MENCIPTAKAN KADER MILTAN HMI
Oleh: Shohibul Habib (Ketua Umum HMI Kom. IQBAL )
Oleh: Shohibul Habib (Ketua Umum HMI Kom. IQBAL )
PENDAHULUAN
sistem perkaderan yang baik akan menghasilkan kader-kader yang militan. Ada dua perkaderan yang dikenal di HMI yaitu perkaderan formal dan perkaderan non-formal. Perkaderan formal ini dimulai dari MAPERCA, Latihan Kader I (basic training), Latihan Kader II (intermediate training), dan Latihan Kader III (advance training) serta beberapa latihan khusus lainnya. Sedangkan perkaderan non-formal adalah ilmu-ilmu yang didapat kader dalam bergaul dengan para kader lainnya terutama para kader yang senior.
Seiring perkembangan zaman dan gaya hidup dari calon kader, maka langkah kita harus diimbangi dengan perubahan pola perkaderan yang sudah ada, tanpa harus merubah nilai-nilai yang dianut. Kemudian apa langkah yang harus kita ambil?
Sebelum penulis memaparkan gagasan-gagasan yang diusungnya, alangkah baiknya kita menilik kembali apa itu arti dari kata Kader dan Militan.
DEFINISI KADER MILITAN
Kader adalah tenaga pengerak organisasi yang memahami sepenuhnya dasar dan ideologi perjuangan. Pada Kongres ke-8 HMI tahun 1966 merumuskan pengertian kader adalah tulang pungung organisasi, pelopor, pengerak, pelaksana, penyelamat cita-cita HMI masa kini dan yang akan datang dimanapun berada, tetap berorientasi kapada azas dan syariat islam.
Arti kata Militan yaitu bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras: untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yg -- dan penuh pengabdian, Kata militan juga merujuk kepada orang atau kelompok orang-orang yang ikut serta dalam suatu pertempuran fisik/verbal yang agresif, biasanya dikarenakan suatu penyebab. Jurnalis seringkali mempergunakan kata miiltan sebagai istilan netral untuk prajurit yang tidak termasuk di dalam suatu organisasi militer. Secara khusus, seorang yang militan turut serta dalam tindak kekerasan sebagai bagian dari alasan memperjuangkan suatu tujuan politis.
Secara populer, kata "militan" seringkali disamaartikan dengan teroris, walaupun mungkin dengan karakteristik yang lebih lemah. Istilah "negara militan" dalam bahasa sehari-hari merujuk kepada suatu negara yang memiliki sikap agresif dalam mendukung sebuah ideologi atau perkara. Sedangkan dalam bahasa Perancis, istilah "militan" memiliki makna yang lebih lunak yang berarti "aktivis".
Menilik dari pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa definisi Kader Militan adalah seorang pelopor, pengerak, pelaksana, penyelamat cita-cita HMI yang memiliki kemauan keras dan berdedikasih tinggi untuk memperkokoh maupun menjalankan roda organisasi.
FILOSOFI KEPEMIMPINAN dan LANGKAH PENGKADERAN
Ø Filosofi Kepemimpinan
Untuk melakukan mobilisasi kader militan yang memiliki kesadaran ideologis, yang memaknai nilai-nilai keislaman secara merata, HMI harus menyiapkan sebuah sistem pendidikan yang lebih dikenal dengan istilah sistem perkaderan. Sistem perkaderan ini diharapkan menjadi instrumen pendidikan yang solid di HMI. Menurut Jalaluddin Rakhmat upaya rekayasa sosial (social engineering) dapat dilakukan melalui dua hal yakni pendidikan dan pers. Membangun sistem perkaderan yang baik merupakan sebuah strategi dari HMI dalam upaya rekayasa sosial yang bertujuan nantinya mewujudkan masyarakat adil yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Misi ini tidak lepas dari peran aktif seorang pemimpin. pemimpin yang baik bukan di lihat dari seberapa banyak pengikutnya, tapi seberapa banyak ia bisa menciptakan pemimpin-pemimpin baru dan seberapa besar pengaruhnya dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam organisasi tersebut.
Seorang Filosof kepemimpinan nomor wahid dunia, John Maxwell menyebut ada Lima Tingkat Kepemimpinan.
Tingkat pertama bernama Posisi. Orang mengikuti sang pemimpin tak lain karena posisi pemimpin tersebut dalam struktur organisasi.
Tingkat kedua disebut Hubungan. Orang mengikuti sang pemimpin lantaran mereka ingin merasa senang dan nyaman. Hanya saja jika ini terjadi terus menerus anak buah dengan motivasi dan kreativitas tinggi akan menjadi gelisah dan berujung pada kekecewaan.
Tingkat ketiga dinamakan Hasil. Orang mengikuti sang pemimpin karena apa yang telah dilakukan pemimpin untuk organisasi tersebut. Hasil karya pemimpin diapresiasi anak buah. Mereka menyukai pemimpin dan apa saja yang sedang dikerjakan pemimpin. Tingkat tiga ini memberi landasan kokoh bagi sang pemimpin untuk meraih hasil optimal pada apa yang telah direncanakan.
Tingkat keempat berjuluk Reproduksi. Anak buah didesaian untuk menjadi pemimpin baru yang kelak akan mengganti sang pemimpin.
Tingkat paling tinggi, kelima dinamakan Respek. Anak buah mengikuti sang pemimpin karena siapa diri sang pemimpin dan apa yang pemimpin representasikan. Tingkat ini terjadi karena komitmen tanpa jeda yang dilakukan sang pemimpin untuk mengembangkan anak buah dan organisasinya.
Tingkatan kelima ini bisa disebut sebagai Pemimpin Inspirational (Kharismatik), dimana para pengikut atau anak buah merasa terinspirasi dari sosok sang idola atau pemimpinya, model pemimpin inspirational akan berdaya tahan lama.
Disamping Mr. John Maxwell, yang telah mendeskripsikan mengenai tingakatan dalam kepemimpinan seseorang, terdapat juga seorang filosof kepemimpinan asli dari bangsa Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara
Beliau mempunyai filosofi yang sangat luar biasa menurut saya yaitu “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” (Jika berada didepan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Inilah gagasan Filosofis yang akan diaplikasikan penulis dalam menerapkan kiat-kiat/ langkah pengkaderan.
Ø Langkah Pengkaderan
Metode perkaderan di HMI memang sudah ada pedoman baku, tetapi pedoman itu akan diuji efektivitasnya oleh kondisi obyektif dalam masyarakat. Misalnya, metode itu akan diuji oleh trend dalam kehidupan dan aktivitas mahasiswa dan trend perkembangan kultural masyarakat. Artinya, metode perkaderan yang baku tanpa dibarengi penguatan kondisional terhadap trend kehidupan dan aktivitas mahasiswa sama artinya dengan memaksakan formula metode perkaderan yang asing untuk calon anggota HMI.
Penulis sepakat dengan apa yang pernah dipaparkan oleh Prof. Komarudin Hidayat tentang pengkaderan HMI, beliau menaruh perhatian terhadap forum MAPERCA agar diperkuat dan ditingkatkan kualitasnya. Sehingga mahasiswa yang akan direkrut menjadi anggota HMI merasa nyaman dan tidak resisten saat mereka mengikuti LK I.
Belia mengungkapkan, “pada perjumpaan pertama dengan HMI” sebuah citra keislaman yang mundur, tidak dinamis, ketinggalan jaman, secara kultural tidak gaul, dan bisa jadi dianggap konservatif atau kuno. Pencitraan semacam itu menurut Pak Komar semestinya bisa diubah pada fase proses “MAPERCA yang berlangsung lama.”
Kegiatan MAPERCA dalam arti proses awal perkenalan calon kader, menurut Pak Komar bisa berdurasi panjang, yaitu melalui pergaulan sehari-hari di kampus dan kemampuan memahami talenta apa yang dimiliki seorang calon kader HMI. Talenta itu bisa berupa semua jenis, baik di bidang keilmuan, kesenian, kegiatan rekreatif, sampai pada bakat-bakat khusus di bidang olahraga. Inilah NGARSO SUNG TULODO (Jika berada didepan memberi teladan), dimana para senior bersedia turun lapangan memberi teladan yang baik bagi calon kader.
Penguatan prakondisi menuju LK I melalui “MAPERCA yang panjang” ini akan membuat kader yang telah melalui LK I tidak merasa mendapatkan “lingkungan yang frontal dan susah untuk menyesuaikan diri” ketika mereka resmi menjadi anggota HMI.
Itu artinya, kader-kader baru ini bisa meneruskan dalam mengembangkan talentanya dan HMI sebagai organisasi memberi dukungan terhadap hal itu dan tidak malah menghambatnya. Nah pada fase kedua inilah saat kita untuk memberikan bimbingan kepada kader baru agar menjadi kader militant (ING MADYO MANGUN KARSO). Dengan memberikan mereka Kepercayaan, semangat dan motivasi serta kedekatan emosional.
Selanjutnya kita jalankan misi ketiga, yaitu TUT WURI HANDAYANI. Kita pacu semangat mereka agar lebih antusias yang termotivasi untuk trus berkarya di HMI.
Itulah hakekatnya seorang pemimpin harus mampu membaca dan bersikap, Kapan harus tampil didepan ? kapan harus berada di tengah-tengah sebagai fasilitator ? dan kapan harus berada di garda belakang untuk mensupport calon calon leader berikutnya ?
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa langkah pembentukan Kader Militan itu bias ditempuh dengan cara mempraktekkan filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, dengan menitik beratkan pada peningkatan kualitas materi MAPERCA sebagai stimulus bagi calon kader mengikuti LK1 dan jenjang- jenjang pengkaderan selanjutnya.
Untuk melakukan mobilisasi kader militan yang memiliki kesadaran ideologis, yang memaknai nilai-nilai keislaman secara merata, HMI harus menyiapkan sebuah sistem pendidikan yang lebih dikenal dengan istilah sistem perkaderan. Sistem perkaderan ini diharapkan menjadi instrumen pendidikan yang solid di HMI. Menurut Jalaluddin Rakhmat upaya rekayasa sosial (social engineering) dapat dilakukan melalui dua hal yakni pendidikan dan pers. Membangun sistem perkaderan yang baik merupakan sebuah strategi dari HMI dalam upaya rekayasa sosial yang bertujuan nantinya mewujudkan masyarakat adil yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Misi ini tidak lepas dari peran aktif seorang pemimpin. pemimpin yang baik bukan di lihat dari seberapa banyak pengikutnya, tapi seberapa banyak ia bisa menciptakan pemimpin-pemimpin baru dan seberapa besar pengaruhnya dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam organisasi tersebut.
Seorang Filosof kepemimpinan nomor wahid dunia, John Maxwell menyebut ada Lima Tingkat Kepemimpinan.
Tingkat pertama bernama Posisi. Orang mengikuti sang pemimpin tak lain karena posisi pemimpin tersebut dalam struktur organisasi.
Tingkat kedua disebut Hubungan. Orang mengikuti sang pemimpin lantaran mereka ingin merasa senang dan nyaman. Hanya saja jika ini terjadi terus menerus anak buah dengan motivasi dan kreativitas tinggi akan menjadi gelisah dan berujung pada kekecewaan.
Tingkat ketiga dinamakan Hasil. Orang mengikuti sang pemimpin karena apa yang telah dilakukan pemimpin untuk organisasi tersebut. Hasil karya pemimpin diapresiasi anak buah. Mereka menyukai pemimpin dan apa saja yang sedang dikerjakan pemimpin. Tingkat tiga ini memberi landasan kokoh bagi sang pemimpin untuk meraih hasil optimal pada apa yang telah direncanakan.
Tingkat keempat berjuluk Reproduksi. Anak buah didesaian untuk menjadi pemimpin baru yang kelak akan mengganti sang pemimpin.
Tingkat paling tinggi, kelima dinamakan Respek. Anak buah mengikuti sang pemimpin karena siapa diri sang pemimpin dan apa yang pemimpin representasikan. Tingkat ini terjadi karena komitmen tanpa jeda yang dilakukan sang pemimpin untuk mengembangkan anak buah dan organisasinya.
Tingkatan kelima ini bisa disebut sebagai Pemimpin Inspirational (Kharismatik), dimana para pengikut atau anak buah merasa terinspirasi dari sosok sang idola atau pemimpinya, model pemimpin inspirational akan berdaya tahan lama.
Disamping Mr. John Maxwell, yang telah mendeskripsikan mengenai tingakatan dalam kepemimpinan seseorang, terdapat juga seorang filosof kepemimpinan asli dari bangsa Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara
Beliau mempunyai filosofi yang sangat luar biasa menurut saya yaitu “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” (Jika berada didepan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Inilah gagasan Filosofis yang akan diaplikasikan penulis dalam menerapkan kiat-kiat/ langkah pengkaderan.
Ø Langkah Pengkaderan
Metode perkaderan di HMI memang sudah ada pedoman baku, tetapi pedoman itu akan diuji efektivitasnya oleh kondisi obyektif dalam masyarakat. Misalnya, metode itu akan diuji oleh trend dalam kehidupan dan aktivitas mahasiswa dan trend perkembangan kultural masyarakat. Artinya, metode perkaderan yang baku tanpa dibarengi penguatan kondisional terhadap trend kehidupan dan aktivitas mahasiswa sama artinya dengan memaksakan formula metode perkaderan yang asing untuk calon anggota HMI.
Penulis sepakat dengan apa yang pernah dipaparkan oleh Prof. Komarudin Hidayat tentang pengkaderan HMI, beliau menaruh perhatian terhadap forum MAPERCA agar diperkuat dan ditingkatkan kualitasnya. Sehingga mahasiswa yang akan direkrut menjadi anggota HMI merasa nyaman dan tidak resisten saat mereka mengikuti LK I.
Belia mengungkapkan, “pada perjumpaan pertama dengan HMI” sebuah citra keislaman yang mundur, tidak dinamis, ketinggalan jaman, secara kultural tidak gaul, dan bisa jadi dianggap konservatif atau kuno. Pencitraan semacam itu menurut Pak Komar semestinya bisa diubah pada fase proses “MAPERCA yang berlangsung lama.”
Kegiatan MAPERCA dalam arti proses awal perkenalan calon kader, menurut Pak Komar bisa berdurasi panjang, yaitu melalui pergaulan sehari-hari di kampus dan kemampuan memahami talenta apa yang dimiliki seorang calon kader HMI. Talenta itu bisa berupa semua jenis, baik di bidang keilmuan, kesenian, kegiatan rekreatif, sampai pada bakat-bakat khusus di bidang olahraga. Inilah NGARSO SUNG TULODO (Jika berada didepan memberi teladan), dimana para senior bersedia turun lapangan memberi teladan yang baik bagi calon kader.
Penguatan prakondisi menuju LK I melalui “MAPERCA yang panjang” ini akan membuat kader yang telah melalui LK I tidak merasa mendapatkan “lingkungan yang frontal dan susah untuk menyesuaikan diri” ketika mereka resmi menjadi anggota HMI.
Itu artinya, kader-kader baru ini bisa meneruskan dalam mengembangkan talentanya dan HMI sebagai organisasi memberi dukungan terhadap hal itu dan tidak malah menghambatnya. Nah pada fase kedua inilah saat kita untuk memberikan bimbingan kepada kader baru agar menjadi kader militant (ING MADYO MANGUN KARSO). Dengan memberikan mereka Kepercayaan, semangat dan motivasi serta kedekatan emosional.
Selanjutnya kita jalankan misi ketiga, yaitu TUT WURI HANDAYANI. Kita pacu semangat mereka agar lebih antusias yang termotivasi untuk trus berkarya di HMI.
Itulah hakekatnya seorang pemimpin harus mampu membaca dan bersikap, Kapan harus tampil didepan ? kapan harus berada di tengah-tengah sebagai fasilitator ? dan kapan harus berada di garda belakang untuk mensupport calon calon leader berikutnya ?
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa langkah pembentukan Kader Militan itu bias ditempuh dengan cara mempraktekkan filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, dengan menitik beratkan pada peningkatan kualitas materi MAPERCA sebagai stimulus bagi calon kader mengikuti LK1 dan jenjang- jenjang pengkaderan selanjutnya.







0 komentar:
Posting Komentar